Jumat, 07 November 2014

Untukmu Sahabatku (Part-1)

Assalamualaikum, selamat malam, hallo hai...
Ini merupakan cerpen pertama saya. Semoga pembaca suka.
Selamat membaca, ~


Biarkan angin
Relakan angin
Angin. . .
“Div, ntar pulang kuliah mau ke mana ?”
Hening.
“Div..”
“Div..”
Hening.
 “Woy Div..!!!” (berteriak sambil menepuk bahu sosok yang dipanggil)
“Haaiisshh, bisa gak kebiasaan buruk kamu itu dibuang? Manggil tuh biasa aja ! Gak perlu pake nepuk.”
 “Ya habisnya kamu ditanyain diam aja sih, yaudah aku tepuk aja. Hehee...”
“Kamu belum jawab pertanyaan aku Div, Kamu pulang kuliah mau ke mana?”
“Gak ada. Aku mau langsung pulang aja. Capek”.
“Gak gaul banget sih hidup kamu. Jalan kek sekali-sekali.”
“Capek ah jalan, enakan tidur.”
“Dasar kebo. Pantesan aja kamu gak pernah punya pacar”
“Kamu juga sekarang lagi gak punya pacar, padahal sering jalan”
“Tapikan aku pernah pacaran, sedangkan kamu se...”
“Sekali aja belum pernah. Kamu mau cari yang gimana sih Div ? Dokter ? Pengusaha ? Pejabat ? Kamu normal kan Div ? Apa aku harus bawa kamu ke psikolog ?”
“...”
“Aku udah hapal kalimat kamu Tha. Kita udah terlalu sering bahas masalah ini.”
“Oke, aku gak akan bahas lagi. Aku gerak duluan ya. Mau jemput mama aku.”

                        Angin membawaku ke mana ia pergi
                        Angin membawaku ke mana ia mau
                        Angin...

            Radiva Mahesa. Cewek berusia dua puluh satu tahun. Tidak hanya cantik di luar, tetapi juga cantik di dalam. Sosok yang mudah disukai oleh seluruh kalangan mulai dari bayi, anak-anak hingga dewasa. Aktif dalam berbagai organisasi baik di luar maupun di dalam kampus. Sempurna. Kata itu mungkin sangat tepat untuk mendeskripsikan sosok Radiva. Tapi tidak buat aku. Diva tidak sesempurna yang kalian bayangkan. Diva hanya terlihat sempurna.
            Ada banyak cerita yang membentuk ia menjadi sosok yang terlihat sempurna itu. Mungkin kalau aku jelasin di sini, kalian gak akan percaya dengan itu semua. Tapi memang begitulah adanya. Diva yang terlihat sekarang adalah hasil dari apa yang telah terjadi pada dirinya beberapa tahun yang lalu . Aku sendiri juga masih belum  percaya dia bisa tumbuh dewasa seperti sekarang. Ah tapi sudahlah, aku tak ingin mengungkit masa lalu dia.
            Diva itu sahabat aku. Kami bersahabat sejak duduk di kelas dua SMP. Hingga sekarang persahabatan kami sudah terjalin selama hampir tujuh tahun. Aku pernah dengar, konon kabarnya, kalau persahabatan sudah terjalin selama tujuh tahun bakalan awet sampai kakek nenek. Hehee, aku sih senang banget. Gak ada ruginya aku sahabatan sama dia, bahkan selalu untung. Diva selalu ada saat aku butuhin, buat dengerin segala curhatan aku, ah aku ralat, bukan hanya curhatan aku tapi  juga curhatan teman-teman yang lainnya. Dia selalu rela dijadiin ‘tong sampah’ buat kami; para ‘pembuang sampah’. Mulai masalah keluarga, masalah kuliah, tugas kampus sampai masalah percintaan selalu aja ditampung sama Diva. Ajaib memang tuh anak. Padahal pengalaman dia dalam masalah percintaan minim banget. Gak tau deh tuh anak belajar di mana.
“Div, udah kali Div, ngapain sih kamu tampungin juga masalah anak lain? Kamu udah kaya biro psikologi tau gak. Emang kamu gak repot Div? Lagian itu masalah percintaan tahu dari mana sih kamu ? Kaya udah bener aja solusi yang kamu kasih.”
Diva tersenyum. “Kamu sahabat aku. Mereka temen-temenku. Aku tau, aku bakalan repot sama masalah kalian semua. Tapi Tha, kamu kan pernah bilang ‘gak temenan namanya kalau gak ngerepotin’. Prinsip itu masih berlakukan?”
            Kalau Diva udah ngomong gitu, aku cuma bisa mingkem. Dia selalu sukses buat aku tutup mulut. Kalimat yang pernah gak sengaja keluar dari bibir aku itu ternyata tertanam dalam memori dia. Aku kalah. Oh tidak, aku belum kalah. Diva belum jawab pertanyaan aku selanjutnya.
“Untuk masalah percintaan, walaupun pengalaman aku gak sebanyak pengalaman kamu, tapi aku masih bisa belajar dari pengalaman orang lain kan? Masalah yang diceritain ke akukan gak hanya satu macam. Nah, dari berbagai masalah yang aku terima itu aku cari titik masalah yang dapat aku jadikan jawaban atau solusi buat masalah lainnya.”
            Oke Diva, aku kalah.
            Kalian mau tahu apa alasan Diva masih sendiri sampai saat ini ? Kalian pasti mikir kalau dia gak normalkan ? Kalian salah. Dia seratus persen normal. Kenapa aku seyakin itu ? Yaiyalah, dia sahabat aku. Jelas aku yakin sama dia. Alasan dia masih sendiri karena dia sedang menunggu seseorang. Seperti yang sudah aku jelasin di atas, Diva begitu karena kejadian masa lalu dia. Dia sedang menunggu seseorang.

                        Aku yakin angin tidak akan mengecewakanku
                        Aku yakin ia akan membawaku pada kebahagiaan
                        Aku teramat yakin kepada angin
                        Seperti keyakinanku kepadamu

“Aku akan berangkat minggu depan”
“Kapan kamu balik?”
“Aku belum tahu, tapi aku janji. Ketika aku sukses nanti, aku akan datang dan menemui orang tua kamu. Aku akan menjadi orang pertama dan terakhir dihidup kamu. Seperti harapan kamu sama aku.”
“Kamu gak perlu janji sama aku. Aku gak mau berharap dengan janji kamu. Kamu balik dengan selamat, aku udah senang.”
“Engga, pokoknya aku janji.”

            Kadang aku bingung sama Diva. Kenapa dia masih betah menunggu yang gak pasti. Aku sih kalau kaya gitu udah gak yakin. Ah, mulut lelaki, ketika jauh siapa yang percaya. Tapi si Diva ini. Salut dah buat tuh anak. Kalian tahu jawaban dia apa ketika aku tanya kenapa dia masih menunggu?
“Detha Allisya, aku bukan hanya sekedar menunggu dia kembali untuk menepati janji dia. Aku menunggu dia karena aku menghargai dia yang rela berjanji untukku. Menjaga janji itu berat Tha, izinkan aku meringankan sedikit beban janji dia.”
            Mulianya kamu nak.

“Tha, aku pengen cerita sama kamu.”
“Cerita apa? Tumben.”
“Kamu masih ingat kapan terakhir kali Bintang menghubungi aku?”
“Kalau gak salah, terakhir dia hubungi kamu akhir semester satu lalu ya?”
“Yap, kamu benar.”
“Tapi Diva, sekarang kita sudah semester tujuh. Kejadian langka itu sudah terjadi lebih dari dua tahun yang lalu”
“...”
“Udahlah Div, dari pada kamu masih nunggu Bintang yang jelas-jelas tak pernah memberi kamu kabar. Lebih bagus kamu terima aja si Rio.”

“Gak bisa Tha. Aku...”

#################################################################################

Nah... penasaran sama kelanjutan ceritanya ?
Silahkan cek di sini ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar